Sabtu, 12 Januari 2013

Beternak & Budidaya Entok Petelur Serta Peluang Usaha-Nya


Bagi sahabat ternak sekalian, mungkin tak asing dengan entok. Di indonesia telah banyak budidaya entok pedaging maupun budidaya entok petelur. Salah satu kota yang terkenal sebagai sentra produksi itik adalah Tegal, terutama petelur. Namun, seiring tingginya permintaan akan itik pedaging dari berbagai kota, Kelompok Ternak Tani Itik (KTTI) Kemiri Barat, Tegal, Ja-Teng, melakukan diversifikasi usaha dengan mengembangkan ternak entok.
Budidaya Entok Petelur
Menurut Bambang Haryo Wicaksono, Ketua KTTI Kemiri Barat, meski masih tergolong bisnis sampingan, usaha ternak entok sangat menjanjikan bagi peternak itik. “Dengan membudidayakannya dalam 90 hari akan memberikan keuntungan tambahan,” tuturnya. Buktinya, ia mampu mengantongi keuntungan bersih hingga Rp.2 juta dari 200 ekor entok yang dipeliharanya dalam waktu 3 bulan.
“Melihat hasil itu, saya akan menambah populasi pada periode selanjutnya. Memang ternak ini adalah tabungan, tapi harus dikelola dengan baik agar tetap menguntungkan,” tambah Bambang yang sudah mencoba beternak entok selama 4 periode.
Awalnya dalam budidaya entok petelur ini Bambang membangun kandang sederhana yang menghabiskan dana Rp450 ribu dan membeli anak entok umur sehari (day old duck-DOD) seharga @Rp.3.000/ ekor. “Saat ini kita mengusahakan sendiri bibitnya agar suplai & kualitas DOD yang akan kita pelihara terjamin,” tambahnya.
Dalam pemeliharaan, entok mudah dikontrol. Hanya pada umur 1-21 hari saja yang harus rutin dipantau karena fase ini sangat rawan mati. Jika berhasil melewati fase tersebut, jumlah kematian di bawah 10%. Selain itu, biaya pakan entok juga tidak terlalu besar, cuma berkisar Rp150 per hari per ekor. Dibanding dengan biaya pakan itik yang menghabiskan Rp.280 per hari per ekor, maka biaya pakan entok jelas lebih murah.
Dilihat dari aroma dagingnya, daging entok pun relatif kurang tajam dibanding aroma daging itik meskipun dengan pengelolaan sederhana.
Kata Bambang, pasar entok ini lumayan besar. Meski ia tak dapat menunjukkan angka pasti, KTTI Kemiri Barat masih kewalahan dalam memenuhi permintaan dari rumah makan yang menyajikan menu bebek / entok di kota Tegal saja. Belum lagi permintaan dari para pedagang, masih banyak yang tak mampu mereka layani.
Maka, kelompok peternak tersebut belum memasok ke pasar Jakarta. Selain dari Tegal, permintaan juga ada dari Karawang, Cirebon & Brebes. Harga entok per ekor paling rendah mencapai Rp.25.000. Mendekati hari raya, harga bisa naik Rp30.000-Rp40.000 per ekor. Terlebih untuk entok jantan umur 2 bulan, mencapai Rp50.000 per ekor.
Entok-entok itu dipasarkan pada ukuran 2,6-3 kg untuk yang jantan, sedangkan yang betina berbobot 1,5-1,9 kg. Kini, KTTI Kemiri Barat melibatkan 400 peternak aktif untuk mengembangkan budidaya itik & entok petelur dengan pola intensif.
Hal ini memang tidak wajib bagi anggota. “Jika peternak merasa tak mampu, mereka masih diperbolehkan dengan pola tradisional saja, tapi skala 50-60 ekor juga sudah intensif,” kata Bambang. Sejauh ini jumlah populasi entok di kelompok tani juara nasional 2006 ini baru mencapai 700-1.000 ekor per periode.
Intinya, budidaya entok petelur maupun pedaging akan sangat menguntungkan karena permintaan pasar tak akan pernah berhenti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar